Kamis, 03 Oktober 2013

Wisata Patung Seribu Wajah, Tanjung Pinang


Minggu yang cerah dan kami berencana untuk jalan – jalan berkeliling kota Tanjung Pinang, ibukota provinsi Kepulauan Riau. Jarak dari tempat kos di Batu Ampar menuju Pelabuhan Telaga Punggur kurang lebih satu jam. Lumayan jauh untuk ukuran jalan yang bebas macet. Pelabuhan Telaga Punggur adalah salah satu pelabuhan domestik yang digunakan warga pulau Batam untuk menyebrang ke kota atau pulau di Kepulauan Riau. Pelabuhan yang tidak terlalu besar tapi sangat berguna untuk banyak wisatawan dari Tanjung Pinang atau Tanjung Uban. Kami membeli tiket ferry jurusan Tanjung Pinang seharga Rp 110.000/PP dengan waktu keberangkatan tiap satu jam. Setelah membayar Boarding Pass seharga Rp 7.500 ( hm, serasa naik pesawat lah ya ) dan melewati pemeriksaan kami masuk ke area ruang tunggu pelabuhan yang lumayan bersih. Kurang lebih 1 jam perjalanan sampailah kami di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang, pelabuhan internasional dan domestik bagi warga Tanjung Pinang. Di Sekitar pelabuhan terdapat beberapa kantor pemerintah seperti kantor Bea Cukai, Kantor Polisi dan Kementrian kesehatan.


Setelah makan siang di rumah makan yang menyediakan sea food dan makanan khas melayu kami menuju Vihara Ksitigarbha Bodhisattva … hehe, agak ribet ya bacanya. Vihara ini terletak di km 14 jalan Kijang Tanjung Pinang dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Letaknya yang di dataran tinggi membuat vihara ini terlihat megah. Di pintu masuk terdapat gapura dengan dua patung yang membawa pedang dan berwajah galak yang diibaratkan sebagai penjaga. Di  tiang gapura terdapat relief ular naga melingkar dari atas ke bawah dan di sela – sela ular terdapat relief macan juga ikan. melihat gapura sebesar ini mengingatkanku pada film silat Hongkong yang sering memakai latar belakang kekaisaran Cina.


Masuk ke dalam terlihat Vihara yang berbentuk benteng dengan bagian atasnya terdapat bangunan dengan atap berwarna merah. Bentuknya sesuai dengan arsitektur cina karena melengkung.


 Setelah melewati lorong sudah terlihat jejeran patung budha atau Arahat yang berbaris rapi.  Arahat adalah orang yang telah mencapai spiritual tertinggi dalam agama Budha. Tingginya melebihi tinggi orang dewasa yaitu sekitar 1,8 – 2 meter. Ada ratusan patung dengan wajah dan tampilan yang berbeda. Ada yang tertawa, tersenyum, cemberut, galak bahkan berwajah seram. Beberapa patung juga lengkap dengan senjata, kendi bahkan binatang di tangan. Jika diperhatikan dengan seksama maka kita seolah sedang dipandangi oleh ratusan pasang mata dengan berbagai ekspresi. Walau jumlah patungnya belum mencapai seribu tempat ini sudah dikenal dengan “ Patung Seribu Wajah “.



Vihara ini letaknya tidak terlalu jauh dari bandara Raja Ali Haji dan bisa menggunakan taksi dengan biaya 20-30 ribu. Dibuka mulai pukul 08.00 – 17.00 wib dan tidak dipungut biaya karena terbuka untuk umum. Hamparan perkebunan dan bukit di sekitarnya membuat tempat wisata ini menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat menyambangi kota Tanjung Pinang.

1 komentar :

  1. pengen kesana, katanya sekarang udah nggak dibuka buat umum ya?

    BalasHapus