Rabu, 23 Oktober 2013

Wisata Pulau Penyengat, Kepulauan Riau




Jalan Jalan seru kali ini aku dan teman – teman mengunjungi Pulau Penyengat. Pulau ini terletak 3 km dari kota Tanjung Pinang dan berjarak kurang lebih 35 kilometer dari pulau Batam. Kami harus menyeberang dulu dari pelabuhan Punggur menuju pelabuhan Tanjung Pinang menggunakan kapal ferry dengan biaya 115.000/PP dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Dari Pelabuhan perjalanan di lanjutkan dengan naik pompong yaitu perahu kecil yang biasa digunakan para nelayan dengan membayar 15.000/PP. Perahu ini bisa mengangkut 12 orang dengan tujuan yang sama.  


Selama kurang lebih tiga puluh menit naik perahu bisa terlihat barisan pompong, speedboat dan rumah panggung yang berderet di sepanjang pelabuhan. Hamparan laut biru dengan riak gelombangnya membuat perjalanan menjadi seru hingga kami tiba di dermaga Penyengat. Di sekitar dermaga kami sudah di sambut beberapa pedagang yang menjajakan makanan khas pulau. Pulau Penyengat di masa lampau sempat menjadi pusat pemerintahan. Menurut cerita yang beredar asal muasal nama “ Penyengat” diambil dari kisah seorang saudagar yang datang dan hendak mengambil air  lalu disengat oleh sekumpulan lebah. 


Ada beberapa tempat di pulau ini yang dijadikan tempat wisata.  Bangunan  mencolok yang paling dekat dengan dermaga adalah Mesjid Raya Sultan Riau. Mesjid ini berdiri sejak 1832 M pada saat kepemimpinan Raja Abdurrahman., Yang dipertuan Muda Riau VII. Bangunan mesjid seluruhnya berwarna kuning, berdiri dengan megah dan terawat dengan baik. Ada empat buah menara yang berbentuk seperti bawang sebagai kubahnya. Di bagian kanan dan kiri mesjid terdapat bangunan kembar sedangkan bagian belakangnya terdapat makam keluarga sultan. Kubah yang berjumlah 17 buah di seluruh bangunan mesjid sesuai dengan jumlah rakaat sholat lima waktu. Saat itu aku sedang tidak melaksanakan sholat jadi tidak bisa melihat jika di dalam mesjid terdapat perpustakaan Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, Yang Dipertuan muda Riau X dan kitab-kitab kuno juga alquran dengan tulisan tangan. 


Oh iya, untuk berkeliling Pulau Penyengat ini kami menggunakan Bentor atau Becak Motor. Satu bentor bisa untuk tiga orang dengan biaya 25 ribu/PP.  Cukup menggelikan jika di tengah jalan sesama bentor saling bertemu, jalan yang tidak luas membuat kami was – was jika badan bentor bersentuhan. Untunglah supir bentor yang kami tumpangi sudah lihai mengemudi. Tempat berikutnya adalah kompleks makam bangsawan. Salah satunya komplek makam Raja Hamidah ( Engku Puteri ) pemegang Religa Kerajaan (alat-alat kebesaran kerajaan). Raja Hamidah adalah permaisuri Sultan Mahmud Syah III (1760-1812). Sultan Mahmud Syah III adalah keturunan Sultan Riau IV dengan gelarnya Raja Haji Fisabilillah.  



Disini juga terdapat makam Raja Ali Haji ( 1808-1873 ), pahlawan nasional dalam bidang sastra juga pujangga terkenal dengan karya Gurindam 12. Di dalam komplek pemakaman terdapat 12 pasal syair melayu yang berisikan nasihat – nasihat tentang kehidupan.  Ada juga makam Raja Ahmad, penasehat kerajaan juga Raja Haji Abdullah, yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX (1855-1858) serta Permaisurinya Tengku Aisyah.



Tempat selanjutnya yang terletak di pinggir laut adalah Balai Adat Melayu Indera Perkasa. Bentuknya berupa rumah panggung dengan kayu yang kokoh. Balai adat ini digunakan sebagai penyimpanan perkakas raja dan tuan putri. Di dalamnya terdapat pelaminan pengantin adat melayu dengan warna kuning keemasan.  Kami langsung berfoto narsis di pelaminan seperti pengantin melayu hahaha …. . Di bawah bangunan terdapat sumur yang  merupakan  salah satu daya tarik bagi pengunjung. Menurut cerita jika membasuh wajah atau kaki menggunakan airnya bisa mendatangkan keberkahan. Sumur ini sudah berusia ratusan tahun dan konon merupakan sumber mata air pertama di Pulau Penyengat. 


Seraya menikmati keindahan pulau kami mencicipi masakan khas penyengat yang dinamakan “ Asma Roja “. Makanan ini terdiri dari kepiting yang sudah dihancurkan lalu dicampur dengan tepung yang sudah diberi bumbu lalu digoreng. Setelah di potong menjadi ukuran kecil disajikan dengan sambal bumbu kacang di taburi ketimun dan bawang goreng. Dipadukan dengan semangkuk es buah segar membuat  hawa panas udara laut menjadi tidak terasa.




Jadiiii ... buat kalian yang sedang berkunjung ke pulau Batam dan sekitarnya, jangan lupa untuk mampir dan menikmati keindahan serta sejarah Pulau Penyegat yang sudah berusia ratusan tahun ini. 

1 komentar :