Jalan – jalan kali ini aku dan
teman – teman mengunjungi kampung tua yang berada di Pulau Batam. Menurut data statistik
pemerintah kota,
Pulau Batam memiliki sekitar 36 kampung tua. Kampung ini sudah berdiri puluhan tahun
silam sebelum kota
Batam ramai dan sukses seperti sekarang. Penghuni kampung ini kebanyakan warga
melayu asli yang satu sama lainya masih terikat kekerabatan. Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai
nelayan. Hasil laut yang mereka dapat
akan di tampung untuk dijual ke seputar pasar dan supermarket di sekitar Batam.
Kamis, 21 November 2013
Rabu, 20 November 2013
Keindahan Mesjid Raya Batam
Setelah hampir dua tahun menetap di kota Batam baru kali ini aku mengunjungi mesjid terbesar yang terdapat disini yaitu Mesjid Raya Batam. Mesjid ini lumayan jauh dari tempat kos karena letaknya di pusat kota yaitu Batam Center. Hari itu aku dan Dina ingin melaksanakan sholat Idul Adha sekaligus melihat proses pemotongan kurban. Perjalanan menggunakan motor menghabiskan waktu 30 menit dan kamipun memarkir kendaraan di depan mesjid. Hujan yang mulai turun membuat pihak mesjid meminta seluruh jamaah untuk masuk ke dalam.
Kamis, 31 Oktober 2013
Liputan konser NOAH, Grand Ballroom Swiss-Bel Hotel, Batam
Hepii banget
karena akhirnya aku berhasil mendapatkan tiket untuk menyaksikan Konser NOAH
yang bertajuk “ REBORN”. Konser diadakan di Grand Ballroom Swiss-Bel Hotel, Harbour Bay, Batam. Masih ingat kan postinganku sebelumnya jika siang
harinya saat jam istirahat aku bertemu dengan Reza si Drummer dan Ikhsan si
Additional Bass. Aku bertemu saat mereka ingin menunaikan ibadah sholat jumat
di mesjid yang terletak dalam komplek rusunku. Meski sudah menyamar dengan memakai
gamis dan kopiah ala pria arab atau pak haji tapi aku tetap mengenali mereka.
setelah sedikit memaksa hahaha … mereka akhirnya mau berfoto dengan aku dan
teman – teman.
Naaah ….. gara
– gara itulah aku jadi makin semangat untuk menonton pertunjukan mereka malam
harinya. Bayangkan saja demi
mempersiapkan diri agar terlihat keceh bin cantik di mata “ Ariel “ aku sampai
ijin pulang lebih awal untuk mandi dan berdandan … hihihi … agak lebay yaaa …
tapi begitulah kalau sudah cinta.
Setelah memakai baju berwarna merah dan kerudung warna senada aku dan
Dina tidak ada bedanya dengan fans NOAH yang biasa disebut “ Sahabat NOAH”.
Tiba di venue
sekitar jam 17.30 Wib. Kami sengaja datang lebih awal karena ingin mendapat
lokasi nonton tepat di depan panggung. Berhubung membeli tiket festival dan berdiri
jadi harap maklum deh jika harus
berdesakan dengan penonton lain bahkan mulai dari mengantri di pintu masuk.
Setelah menunggu dua jam akhirnya pintu
masuk yang di jaga penyelenggara acara beserta petugas kepolisian dibuka.
Penonton yang berdesakan sempat membuatku sebal karena mereka seperti tidak
sabar untuk segera masuk. Haeduuh … pliss deh! Emang situ aja yang mau ketemu
Ariel, ocehku dalam hati.
Taraaaa
…..akhirnya setelah perjuangan mengantri terbayarkan karena kami berhasil
mendapat posisi tepat di depan pagar pembatas antara penonton VIP dan Festival.
Sempat sebal dengan seorang ibu .. iya,
wanita seumuran dengan ibuku yang berusaha mendesak sekuat tenaga mendorong
tubuhku keluar dari deretan depan. Hehe, ternyata pesona Ariel tak mengenal
umur mulai dari anak kecil, abg, hingga seorang ibu. Meski kenyataanya si ibu tidak sanggup
berdiri lama bahkan saat konser belum dimulai ia sudah mundur ke belakang.
![]() |
| Sahabat NOAH Batam |
![]() |
| Suasana di pintu masuk |
Lampu panggung
menyala terang dan muncul sepasang host untuk membuka acara. Setelah memberikan
penjelasan tentang sponsor, media support hingga menayangkan trailer film NOAH
yang akan rilis November mendatang
ruangan menjadi gelap. Tiga menit kemudian dalam kegelapan munculah satu
demi satu personil NOAH hingga penonton berubah riuh saat suara khas Ariel
menyapa. Kilat lampu menyala
disertai intro gitar dari Lukman
dan Uki. Ariel malam itu mengenakan jas dan celana panjang hitam dengan kaos
abu – abu. Menyapa hangat fans di Batam
penampilan dibuka dengan lagu Jika
Engkau. Usai lagu pertama di nyanyikan Ariel menerangkan jika ini kedua kalinya
NOAH mengunjungi Batam setelah terakhir
tahun 2006 saat masih bernama Peterpan.
Malam itu
penonton kembali mengenang lagu – lagu
Peterpan . Lagu Ada apa denganmu,
Tak bisakah, Di atas normal, Yang terdalam, Semua tentang kita, Mimpi yang
sempurna. dibawakan dengan suara keren Ariel. Meski sound system dalam ruangan
tidak terlalu bagus namun penonton tetap hanyut dan bernyanyi bersama. Kejadian lucu sempat terjadi saat Ariel
meminta penonton memilih salah satu
personil untuk bernyanyi. Berdasarkan tepuk tangan terbanyak akhirnya Reza sang
drummer sedikit di paksa ke depan panggung. Di iringi gitar oleh Ariel lagu
Mungkin Nanti di bawakan Reza. Gaya
yang sedikit kaku membuat penonton tertawa hingga Ariel tidak tega dan
mengambil alih sisa lirik.
Penampilan
Ariel, Lukman, Uki, David, Iksan dan Reza juga berhasil membuat penonton
berteriak riuh saat lagu dari album terbaru mereka “ Seperti Seharusnya “ mulai
dibawakan. Puisi Adinda, Hidup untukmu mati tanpamu, Terbangun sendiri, Separuh
aku, Tak lagi sama, Ini cinta, hingga Raja negeriku. Sepanjang pertunjukan
Ariel selalu mengajak komunikasi dengan penonton. mulai dari bernyanyi bersama,
melemparkan pic gitar yang sudah dipakainya juga melemparkan topi yang dikenakan
hingga beberapa kali
Berkali – kali Ariel juga mengganti gitar mulai dari gitar akustik hingga elektrik tergantung jenis lagu yang dibawakanya. Saat lagu Menunggumu dan Mungkin nanti ia menggunakan gitar akustik. Sedangkan di lagu Tak bisakah, Diatas normal atau lagu bernada riang ia menggunakan gitar elektrik. Kadang ia memanggil Uki dan Lukman untuk berbaur ke depan panggung dan berkolaborasi bersama. Ariel juga sempat menceritakan latar belakang beberapa lagu seperti Puisi Adinda yang di buatnya saat masih SMA. Begitu juga lagu Menunggumu yang dijadikan duet dengan Alm. Chrisye.
Jumlah
penonton tidak terlalu membludak mungkin karena diadakan di hotel dengan harga
tiket sedikit lebih mahal daripada di lapangan terbuka. Penampilan NOAH malam
itu memuaskan penonton yang hadir. Hampir 20 lagu dari keseluruhan album mereka
bawakan. Meski Ariel berkali – kali mengusap peluh yang mengucur dari wajahnya
namun ia tetap semangat mengajak penonton bernyanyi. Kata “ LANJUT “ yang
menjadi ciri khasnya selalu terdengar tiap kali ia mengajak penonton
berkomunikasi.
Dua jam terasa sangat sebentar. Kelelahan berdiri sejak mengantri hingga pertunjukan selama hampir empat jam seolah terbang saat bernyanyi bersama. Ariel mengingatkan jika lagu berikutnya merupakan lagu penutup dan kami sempat kecewa. Namun NOAH menutup pertunjukan dengan sempurna. Lagu Topeng menjadi akhir dari pertunjukan. Masih dengan penuh semangat penonton tetap berteriak dan berlonjak keras mengikuti tiap liriknya.
Dua jam terasa sangat sebentar. Kelelahan berdiri sejak mengantri hingga pertunjukan selama hampir empat jam seolah terbang saat bernyanyi bersama. Ariel mengingatkan jika lagu berikutnya merupakan lagu penutup dan kami sempat kecewa. Namun NOAH menutup pertunjukan dengan sempurna. Lagu Topeng menjadi akhir dari pertunjukan. Masih dengan penuh semangat penonton tetap berteriak dan berlonjak keras mengikuti tiap liriknya.
Masalah berat
yang pernah menimpa Ariel tidak membuat NOAH terpuruk. Musik mereka selalu ditunggu oleh fans yang
selalu setia. Loyalitas yang ditunjukan para personil NOAH dan sahabat NOAH
membuat Ariel bangkit dan berdiri untuk tetap manjadikan band mereka salah satu
Band terbaik yang negeri ini miliki.
" Berjalanlah walau habis terang, ambil cahaya cintaku terangi jalanmu
Diantara beribu lainya ... kau tetap .. kau tetap ... kau tetap benderang "
Kamis, 24 Oktober 2013
Wisata Pulau Putri, Nongsa, pulau yang penuh misteri
Jalan – jalan
lagi yuuuukkk ….. kali ini aku dan teman – teman mengunjungi Pulau Putri,
Kepulauan Riau. Pulau Putri letaknya satu kilometer di lepas Pantai Nongsa,
Kecamatan Nongsa. Batam. Pulau ini merupakan salah satu dari puluhan pulau
terluar di Indonesia dan
menjadi batas langsung dengan negara Singapura dan Malaysia. Menurut nelayan kita
hanya berenang sejauh 13 kilometer untuk mencapai pantai Changi, Singapura atau
berkayuh dengan pompong sejauh 16 kilometer untuk sampai ke pesisir Johor, Malaysia.
Pulau ini
terbagi menjadi tiga bagian dan akan menyatu saat laut menjadi surut. Pulau
utama memiliki luas hanya sekitar tiga ratus meter dengan pasir putihnya. Pulau
ini menghadap langsung ke pantai Nongsa. Bagian pulau lainya terletak di bagian
timur yang hampir sebagian daratanya telah terkikis karena abrasi. Yang tersisa
hanya tebing setinggi sepuluh meter dan lumayan mengerikan jika kita nekat menyusuri
bagian tepinya. Longsornya tanah, ombak yang lumayan tinggi hingga air pasang bisa menjadi bahaya yang
mengancam. Aku memilih menikmati desir angin yang berhembus kuat seraya
memperhatikan beberapa pengunjung yang sedang asyik memancing.
Disini kami
bisa melihat sebuah tugu sebagai tanda keberadaan pulau. Pada tugu itu terpahat lambang negara Garuda Pancasila
dan negara kesatuan Republik Indonesia
lengkap dengan titik kordinat Lintang Utara dan Bujur Timur. Disini juga
terdapat menara suar milik Dirjen Perhubungan Laut Tanjung Pinang. Mercusuar
yang menyala berfungsi sebagai penuntun bagi kapal – kapal yang lewat agar
tidak menabrak karang yang terdapat di sekitar pulau. Mercusuar akan menyala
otomatis memakai tenaga surya.
Pulau ini
selalu ramai jika akhir pekan karena banyak pengunjung yang ingin berenang atau
sekedar berwisata di tepi pantai. Beberapa warung tampak berjejer menjajakan
berbagai makanan dan minuman. Mulai dari mie rebus, soft drink, es kelapa
muda hingga jagung bakar. Rimbunan pohon
bisa menjadi tempat berteduh diatas tikar atau alas yang bisa di sewa dengan
harga Rp 10.000 saja. Disini juga tersedia penyewaan ban yang digunakan untuk
anak – anak yang ingin berenang. Sebuah kapal melayu yang karam menjadi tempat
lokasi berfoto yang bagus. Kapal kayu tersebut berbentuk rumah lengkap dengan
jendela. Di pinggir pantai terlihat perahu nelayan tampak rapi berjejer siap
digunakan untuk melaut.
Dibalik
misteri yang cukup membuat bulu kuduk merinding tak membuat pulau ini sepi
pengunjung. Masih banyak wisatawan lokal maupun turis asing yang kerap
menikmati keindahan pantai sambil menunggu matahari terbit atau tenggelam.
Rabu, 23 Oktober 2013
Wisata Pulau Penyengat, Kepulauan Riau
Jalan Jalan
seru kali ini aku dan teman – teman mengunjungi Pulau Penyengat. Pulau ini
terletak 3 km dari kota
Tanjung Pinang dan berjarak kurang lebih 35 kilometer dari pulau Batam. Kami
harus menyeberang dulu dari pelabuhan Punggur menuju pelabuhan Tanjung Pinang
menggunakan kapal ferry dengan biaya 115.000/PP dengan waktu tempuh sekitar 45
menit. Dari Pelabuhan perjalanan di lanjutkan dengan naik pompong yaitu perahu kecil yang
biasa digunakan para nelayan dengan membayar 15.000/PP. Perahu ini bisa
mengangkut 12 orang dengan tujuan yang sama.
Selama kurang
lebih tiga puluh menit naik perahu bisa terlihat barisan pompong, speedboat dan
rumah panggung yang berderet di sepanjang pelabuhan. Hamparan laut biru dengan
riak gelombangnya membuat perjalanan menjadi seru hingga kami tiba di dermaga
Penyengat. Di sekitar dermaga kami sudah di sambut beberapa pedagang yang menjajakan makanan khas pulau. Pulau Penyengat di masa lampau sempat menjadi pusat pemerintahan. Menurut
cerita yang beredar asal muasal nama “ Penyengat” diambil dari kisah seorang
saudagar yang datang dan hendak mengambil air
lalu disengat oleh sekumpulan lebah.
Ada beberapa tempat di
pulau ini yang dijadikan tempat wisata. Bangunan
mencolok yang paling dekat dengan
dermaga adalah Mesjid Raya Sultan Riau. Mesjid ini berdiri sejak 1832 M pada
saat kepemimpinan Raja Abdurrahman., Yang dipertuan Muda Riau VII. Bangunan
mesjid seluruhnya berwarna kuning, berdiri dengan megah dan terawat dengan
baik. Ada empat
buah menara yang berbentuk seperti bawang sebagai kubahnya. Di bagian kanan dan
kiri mesjid terdapat bangunan kembar sedangkan bagian belakangnya terdapat
makam keluarga sultan. Kubah yang berjumlah 17 buah di seluruh bangunan mesjid
sesuai dengan jumlah rakaat sholat lima
waktu. Saat itu aku sedang tidak melaksanakan sholat jadi tidak bisa melihat
jika di dalam mesjid terdapat perpustakaan Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, Yang
Dipertuan muda Riau X dan kitab-kitab kuno juga alquran dengan tulisan tangan.
Oh iya, untuk
berkeliling Pulau Penyengat ini kami menggunakan Bentor atau Becak Motor. Satu
bentor bisa untuk tiga orang dengan biaya 25 ribu/PP. Cukup menggelikan jika di tengah jalan sesama
bentor saling bertemu, jalan yang tidak luas membuat kami was – was jika badan
bentor bersentuhan. Untunglah supir bentor yang kami tumpangi sudah lihai mengemudi.
Tempat berikutnya adalah kompleks makam bangsawan. Salah satunya komplek makam
Raja Hamidah ( Engku Puteri ) pemegang Religa Kerajaan (alat-alat kebesaran
kerajaan). Raja Hamidah adalah permaisuri Sultan Mahmud Syah III (1760-1812).
Sultan Mahmud Syah III adalah keturunan Sultan Riau IV dengan gelarnya Raja
Haji Fisabilillah.
Disini juga
terdapat makam Raja Ali Haji ( 1808-1873 ), pahlawan nasional dalam bidang
sastra juga pujangga terkenal dengan karya Gurindam 12. Di dalam komplek
pemakaman terdapat 12 pasal syair melayu yang berisikan nasihat – nasihat tentang
kehidupan. Ada juga makam Raja Ahmad, penasehat kerajaan
juga Raja Haji Abdullah, yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX (1855-1858) serta
Permaisurinya Tengku Aisyah.
Tempat
selanjutnya yang terletak di pinggir laut adalah Balai Adat Melayu Indera Perkasa.
Bentuknya berupa rumah panggung dengan kayu yang kokoh. Balai adat ini
digunakan sebagai penyimpanan perkakas raja dan tuan putri. Di dalamnya
terdapat pelaminan pengantin adat melayu dengan warna kuning keemasan. Kami langsung berfoto narsis di pelaminan
seperti pengantin melayu hahaha …. . Di bawah bangunan terdapat sumur yang merupakan
salah satu daya tarik bagi pengunjung. Menurut cerita jika membasuh
wajah atau kaki menggunakan airnya bisa mendatangkan keberkahan. Sumur ini
sudah berusia ratusan tahun dan konon merupakan sumber mata air pertama di
Pulau Penyengat.
Seraya
menikmati keindahan pulau kami mencicipi masakan khas penyengat yang dinamakan “
Asma Roja “. Makanan ini terdiri dari kepiting yang sudah dihancurkan lalu
dicampur dengan tepung yang sudah diberi bumbu lalu digoreng. Setelah di potong
menjadi ukuran kecil disajikan dengan sambal bumbu kacang di taburi ketimun dan
bawang goreng. Dipadukan dengan semangkuk es buah segar membuat hawa panas udara laut menjadi tidak terasa.
Jadiiii ... buat kalian yang sedang berkunjung ke pulau Batam dan sekitarnya, jangan lupa untuk mampir dan menikmati keindahan serta sejarah Pulau Penyegat yang sudah berusia ratusan tahun ini.
Selasa, 22 Oktober 2013
Cinta Yang Sempurna
" Memangnya kamu ahli membaca wajah? jangan bicara soal wajah denganku. wajah kalian seperti apa pun aku enggak peduli!" sahut cowok itu dengan suara tinggi
" Aku pikir kamu baik, nyatanya kamu cowok sombong yang memandang wajah kamipun nggak mau, apa sih hebatnya kamu?" Lalas mulai emosional.
Cowok itu tidak langsung menyahut. wajahnya melunak, beberapa kali ia menghela nafas sebelum akhirnya kembali bersuara.
" Aku bukannya enggak mau mandang wajah kalian, tapi aku .. aku hanya bisa menebak suara kalian. itu karena .. aku enggak bisa melihat,"
Lalas dan Joan melongo. Jadi, selama ini? karena itu?
Judul : Cinta yang sempurna
Penulis : Arumi Ekowati dan Selvy Erline
Tebal : 300 Hal
Penerbit : Zettu
Harga : Rp 45.000
Ini Novel duet dengan sahabatku Arumi Ekowati. Persahabatan indah yang sudah terjalin belasan tahun dan melalui banyak suka dan duka. Punya hobi yang sama yaitu menulis membuat kami punya ide untuk nulis bareng. Jiwa remaja yang selalu menempel hahaha .... mengilhami kami dengan banyak cerita seru yang bisa dijadikan tulisan. Sifat yang jaauuuuuh berbeda menjadikan dunia kami penuh warna karena saling melengkapi satu sama lain.
Novel ini bercerita Tentang persahabatan dua cewek yang berbeda dalam segala hal. Mulai dari berbeda secara fisik, yang satu tinggi gede, yang satu tinggi kurus, yang satu hobi diet, yang satu bebas makan apa saja tanpa perlu khawatir berat badannya bertambah. Yang satu ngefans sama artis Korea, yang satu suka banget aktor Hollywood. Yang satu suka banget mi ayam, yang satu suka bakso, yang satu kursus bahasa Mandarin, satunya kursus bahasa Perancis, yang satu agak feminin, yang satu tomboi banget. Kesamaan mereka hanya satu, sama-sama suka nulis. Karena itu keduanya terlibat dalam ekskul mading sekolah.
Taaaapiiiiiii ...... apa yang terjadi saat mereka jatuh cinta pada cowok yang sama? yang pasti PERSAHABATAN menjadi taruhanya.
Setelah membaca novel ini kalian pasti bisa menebak karakter tokoh mana yang terinspirasi dari keperibadian kami berdua :D :D
Jumat, 18 Oktober 2013
Finally, I got concert ticket NOAH, Grand Ballroom Swiss-bell Hotel, Batam
Yipiiiiii .... akhirnyaaaaaa
Setelah bertemu dengan Reza sang drumer dan Ikhsan si additional gitar makan siang di kantin rusun Lancang Kuning, aku dan Dina makin semangat buat menyaksikan penampilan Ariel dan teman - teman nanti malam.
Melalui perjuangan yang agak " panjang" .. hahaha, kami berhasil membeli tiket di penjualan hari terakhir.
Konser NOAH bertajuk " REBORN " akan diadakan di Grand Ballroom Swiss-Bel Hotel, Harbour Bay- Batam. Konser akan berlangsung mulai pukul 20.00 Wib dan mereka akan membawakan 17 lagu dari semua album walau lagu dari album terakhir " Seperti Seharusnya" paling banyak dinyanyikan.
Rasanya nggak sabar nunggu sore nanti karena open gate akan dibuka jam 18.00 wib
tunggu lapor pandangan mata buat di postingan selanjutnya yaaaaa ....
Arieeeel, waait for me ... tonight
Kamis, 10 Oktober 2013
Cerita Cinta
" Aku gagal untuk tidak membiarkan diriku jatuh hati padamu," ucap Sang Woo serius.
Hye Mi memalingkan wajahnya seraya melepas genggaman tangan Sang Woo. Apa yang sebenarnya terjadi dengan cintanya? Kenapa ia harus mencintai dan dicintai oleh pria yang tidak akan mungkin menjadi miliknya. Apakah ia hanya menjadi cinta sesaat bagi mereka?.
Hye
Mi tidak pernah bermimpi mendapat seorang pria sempurna dalam hidupnya. Ia
hanya meminta Tuhan mengirimkan seorang pria yang melimpahinya dengan kasih
sayang yang tidak pernah diterimanya sepanjang usia. Sayangnya Jung Su dan Sang
Woo, dua pria yang dicintai dan mencintainya hanya bisa meninggalkan luka yang
dalam di hidupnya.
Akankah
sepanjang hidup Hye Mi tidak pernah mengenal cinta yang tulus? Siapakah pria
yang berhasil membuktikan jika cinta butuh pengorbanan? Tidak pernah habis
bicara tentang cinta. Kisah yang diawali
dengan rentetan peristiwa yang menyakitkan. Kisah yang harus mengubur semua
harapan dan angan yang telah terurai dengan manis bahkan yakin akan menjadi
nyata.
Judul : Cerita Cinta
Penerbit : Zettu
Tebal : 258 Hal
Harga : Rp 35.000
Rabu, 09 Oktober 2013
Wisata Pantai Sekilak, Nongsa, Batam
Kali ini aku dan teman – teman berkunjung ke Pantai Sekilak yang letaknya di bagian timur kota Batam. Hari sedikit mendung saat kami tiba hingga tidak perlu berpanas ria di tengah teriknya matahari. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 10.000/orang di tambah biaya parkir untuk motor Rp 5.000 dan mobil Rp 10.000 kami menyusuri jalan tanah yang kanan dan kirinya penuh dengan rimbunan pepohonan.
Sebelum masuk ke pinggir pantai
kami menemukan banyak area permainan yang sengaja disediakan untuk pengunjung.
Mulai dari lapangan bola, tempat bermain anak, juga arena aktivitas lain
seperti kayaking, family gathering atau sekedar berkemah. Di depan lapangan
terdapat sebuah panggung yang biasanya menampilkan hiburan dari artis ibukota
maupun lokal.
Taman dengan pepohonan yang rimbun dan beberapa undakan yang sengaja dibuat pengunjung yang suka mendaki. Di pinggir pantai banyak terdapat bebatuan dan karang besar yang bentuknya sangat menarik. Kami harus antri dengan pengunjung lain untuk mendapatkan lokasi berfoto di atas bebatuan besar. Di pantai ini sering juga digunakan sebagai tempat olahraga air. Bahkan beberapa orang tampak sedang asyik memancing sambil memandang birunya laut.
Pihak pengelola tidak membatasi
jam kunjungan karena tenpat wisata ini terbuka selama 24 jam. Pengunjung terbanyak
biasanya datang saat akhir pecan atau hari libur. Bahkan saat malam pergantian
tahun jumlahnya bisa dua atau tiga kali lipat dari biasanya.
Jumat, 04 Oktober 2013
Wisata Pantai Galang Mas, Pulau Galang
Jalan – jalan
kali ini menuju ke Pulau Galang Baru yang letaknya 50 km dari Pulau Batam.
Menyeberang melewati Jembatan Barelang yang menjadi jembatan penghubung bagi
beberapa pulau yaitu, Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Setokok,
Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru.
Perjalanan sangat menyenangkan karena seluas mata memandang terpampang laut biru dan pulau – pulau kecil yang berbentuk unik.
Perjalanan sangat menyenangkan karena seluas mata memandang terpampang laut biru dan pulau – pulau kecil yang berbentuk unik.
Masuk ke Pantai Galang Mas kami harus melewati jalanan berpasir yang belum sepenuhnya di aspal. Kami harus berjalan sedikit untuk mencapai pintu masuk area wisata pantai. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 5.000/orang kami langsung melihat sebuah taman yang sudah di lengkapi dengan ayunan, beberapa pendopo lengkap dengan pembakaran api unggun dan bebatuan beragam bentuk
Rimbunnya
pepohonan dan desir ombak yang terdengar bagaikan alunan irama membuat suasana menjadi tentram. Rimbunnya pohon bakau yang
memenuhi bibir pantai menambah keasrian. Menginjak bebatuan yang bercampur
dengan jernihnya air bisa ditemukan ikan kecil yang berlarian di sela –
selanya.












































