Sabtu, 29 November 2014

Wisata Puncak, Bogor November 2014 : Bubur ayam Lapangan


Lapar? Apa lagi yang dilakukan selain makan. Iya kaan ... hihihi! Masih di kawasan Puncak, Bogor, kami mampir ke sebuah warung makan yang terletak di antara Restoran Melrimba Garden dan Mesjid At-Ta’awun. Jika dari arah Jakarta berada di sisi kiri jalan. Warung makan ini tidak terlalu besar namun konsep interiornya cukup unik karena sebagian besar bahan bangunan menggunakan kayu dan bambu. Kusen jendela menggunakan bambu yang dibuat sedemikian rupa dan di tambahkan kaca. Ruangannya sih tidak terlalu luas hanya tersedia empat meja ukuran 5 – 6 orang lengkap dengan kursi plastik dan satu dipan untuk lesehan.

 
 Meski pada plang  tertulis bubur ayam namun warung makan ini tidak hanya menjual bubur, ada nasi timbel, ayam goreng hingga aneka jenis soto.  Aneka camilan juga tersedia mulai dari gorengan bakwan, tahu, perkedel, kerupuk ada juga kue basah.  Disini juga menjual beragam jenis minuman seperti kopi, teh, susu, bandrek dan soft drink.  Enaknya, warung ini bersih dan rapi jadi nafsu makan kita bertambah.
 
 
 Harga yang di jual masih terjangkau oleh kantong kok. Bubur ayam porsi sedang dijual Rp 8.000/porsi, porsi besar Rp 12.000/porsi. Untuk sate usus, ati ampela atau telur puyuh dijual Rp 3.000/tusuk. Makanan lain dibandrol mulai dari Rp 15.000/porsi dan minuman mulai dari Rp 2.000. Berhubung pagi itu aku dan hubby menyantap bubur ayam maka yang bisa kuceritakan rasa dan bentuk buburnya yaaa.
Bubur ayam ini sebenarnya tidak beda dengan bubur ayam Cianjur lainya. Berupa bubur nasi yang  ditaburi kacang, cakwe, daun bawang,ayam suir, bawang goreng dan kuah sayur. Tapi menurut lidahku saat memasak bahan dasar buburnya mungkin ditambah mentega karena rasa gurihnya beda jika menggunakan penyedap rasa atau garam. Bubur yang panas dan gurih ditambah dengan kecap manis lalu sambal ... rasanya maknyoooossss bingitttsss!  Aku menyesal memesan porsi sedang karena perutku berteriak minta tambah. Akhirnya, nyolek – nyolek dikit deh punya hubby hihihi.

 
 

Selain interior yang menarik, suasana alam di sekeliling warung makan ini bagus. Dari pinggir jendela kita bisa menatap hamparan bukit perkebunan teh yang hijau. di bagian belakang juga terdapat empang... hm, apa ya nama kerennya? Ah .. iya tambak atau tempat pemancingan, tapi bukan pemancingan umum ya karena ini milik pribadi, bentuknya justru lebih mirip danau. Terlihat ikan yang hilir mudik dan beberapa orang yang siap dengan alat pancing. Ikan goreng atau bakar yang langsung diambil dari tambak pasti rasanya jauh lebih lezat ketimbang membeli ikan beku dari pasar atau supermarket. 
Oh iya, ada satu lagi yang menarik  pada foto yang dipajang di lemari. Tampak seorang ibu sedang bersalaman dengan ibu Ani Yudhoyono mantan presiden RI.  Ternyata, suatu hari Istana Cipanas sedang mengadakan acara dan memesan ratusan porsi bubur pada warung ini. waah, kereen yaa buburnya bisa dinikmati oleh keluarga Presiden. Pemilik warung makan ini yaitu Ibu Lina juga merupakan pemilik Restoran Bumi Aki yang terkenal itu looh! Pantesan konsep restoran dan warung makan hampir sama karena yang mendesign adalah suami dari ibu Lina yang seorang Arsitek.
Berikut penilaianku untuk warung makan Bubur Lapangan :
Makanan             : Enak
Tempat                : Nyaman meski kurang luas
Pemandangan      : Bagus buanget
Pelayanan           : Baik dan ramah
Harga                 : Standart untuk ukuran  tempat wisata


1 komentar :