Sabtu, 15 November 2014

Wisata Puncak, Bogor November 2014 : Memacu adrenalin dengan Paralayang


Mau merasakan sensasi sekaligus uji nyali terbang di udara? Di puncak terdapat  wisata terbang Tandem/Paralayang yang lokasinya masih di sekitar Perkebunan teh Gunung Mas. Lokasinya tidak jauh dari Masjid At – Ta’awun naik lagi sekitar 700 meter dari arah Jakarta.  Selain Paralayang tempat ini dulunya juga digunakan untuk terbang Gantole.  Tiket masuk ke lokasi ini dikenakan Rp 8.000/orang dengan biaya parkir kendaraan Rp 5.000. 

 


Jalan masuk lumayan penuh liku dengan sisi kiri jurang yang cukup juram. Disarankan lebih berhati – hati saat berkendara karena jalan yang menanjak. Lokasi parkir yang tidak seberapa luas dan penuh karena weekend membuat kami memarkir kendaraan cukup jauh dan harus berjalan sekitar 200 meter lagi menuju lokasi. Deretan warung makanan dan minuman berjejer di tempat parkir, hm .. lumayan memakan tempat ya. 
 
 Menuju ke atas kami harus naik puluhan anak tangga. Hehe, lumayan pegel sih saat naik ( ups, ketauan deh jarang olahraganya :P ) sebelum akhirnya tiba di lokasi.  Lokasi wisata ini pengelolaanya dibawah Federasi Aero Sport Indonesia ( FASI ).   Jika ingin mencoba olahraga ini berat badanya harus berkisar 25 – 85 kg. Tidak punya phobia ketinggian, penderita hipertensi, vertigo dan jantung.  Sarana ini di buka mulai dari jam 08.00 – 17.00 wib, namun jika cuaca masih bagus bisa lebih dari itu. 
 
Di sisi kanan terdapat meja pendaftaran dan disediakan surat perjanjian yang harus di isi yang menyatakan jika kita terbang atas keinginan sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun.  Prosedur seperti ini tindakan antisipasi untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan biasa dilakukan pada olah raga yang menyerempet bahaya. Biaya sekali terbang dengan waktu 10 – 15 menit sebesar Rp 350.000 sudah termasuk instruktur dan biaya asuransi. Oh iya, tidak perlu khawatir karena semua instruktur disini sudah bersertifikat dan berpengalaman dengan banyak jam terbang . Pesan dari mereka kita hanya perlu mengikuti arahan yang di perintahkan selama di udara. 

 
 

Peralatan terbang terdiri dari helm, parasut dan flight suit. Bentuknya seperti backpack tapi dengan ukuran besar yang fungsinya sebagai alas duduk saat melayang.  Instruktur atau pilot tandem wajib membawa dua flight suit sebagai parasut utama dan cadangan jika yang utama tidak berfungsi.  Flight suit terhubung ke parasut yang panjangnya sekitar 10 meter dengan warna – warna keren seperti orange, kuning dan merah.  Parasut tersebut di bentangkan rapi di landasan dengan tali  harnet yang di pegang oleh pilot.  
Setelah mengecek semua ikatan peralatan telah kencang dan aman lalu menunggu sesaat untuk melihat arah angin baru diberi aba – aba untuk lari hingga ke ujung landasan. Beberapa orang kru membantu menarik tali dan Haappppp ... dalam hitungan detik  parasut berkembang dan meluncur ke arah yang dikemudikan oleh pilot. Huft, melihatnya saja jantungku serasa mau copot bagaimana rasanya jika berada di atas sana ya?  Setelah berputar selama 5 – 10 menit maka di bawah akan tersedia lapangan yang digunakan sebagai landasan pendaratan. Letaknya di kampung pensiunan dan masih di seputaran kawasan perkebunan. Jika ingin kembali ke tempat awal, pengelola menyediakan kendaraan namun jika ingin lebih cepat terdapat ojek yang bisa disewa. 

 
 
 


Banyak pengunjung yang mengantri untuk mencoba olahraga ini tapi banyak juga yang sekedar menonton atau duduk di atas ketinggian seraya memandang kota Bogor dan sekitarnya.  Udara sejuk dan hamparan kebun teh seluas mata memandang menjadi salah satu daya tarik wisata ini. ayooo .... jika punya nyali dan ingin menambah adrenalin bisa mencoba olahraga ini? aku? Hm... sebenarnya sih enggak takut ketinggian cuma ... atuttttt aja hahahaha

Tidak ada komentar :

Posting Komentar